Negeri Di Atas Awan bernama "Tibet"

[caption id="attachment_6012" align="alignnone" width="1380"]Tibet - Sasti Pemandangan 'bendera harapan' yang penuh warna-warni di Tibet. Karya: Sasti Dwi Kartika®[/caption]

Salah satu provinsi di ujung barat daya Republik Rakyat Cina | 中華人民共和國 / 中华人民共和国 | Zhōnghuá Rénmín Gònghéguó ini disebut-sebut masyarakat dunia sebagai puncak dunia karena letaknya di wilayah Pegunungan Himalaya |  हिमालय ‎| himā-laya | Kediaman Salju. Tibet བོད་ | Bod sendiri merupakan daerah otonomi khusus RRC yang letaknya berdekatan dengan India dan Nepal. Ngomong-ngomong soal Tibet, apa yang teman-teman pikirkan setelah mendengar daerah bernama Tibet? Puncak Everest? Pegunungan Himalaya? Atau salah satu tokoh filosofisnya, Dalai Lama? Ya, tentu banyak sekali hal-hal menarik mengenai negeri di atas awan ini. Itulah yang akan saya gambarkan dalam catatan perjalanan ini, sebuah perjalanan yang saya lakukan tahun lalu. Berikut ulasannya!

Soal akses dan bagaimana menuju Tibet ada banyak cara untuk pergi kesana. Kalian bisa memilih jalur udara dengan pesawat, naik kereta selama 44 jam atau pun naik mobil selama satu minggu (Ya, benar! Seminggu!). Banyak hal yang membuat orang begitu terobsesi untuk bisa mengunjungi tempat ini dibanding tujuan wisata lainnya di dunia. Misalnya saja ada yang ingin ke Tibet karena ingin mendaki Gunung Everest |  ཇོ་མོ་གླང་མ | Jomo Langma | Ibu Suci yang merupakan puncak tertinggi planet ini. Ada juga yang bercita-cita pergi tempat ini karena keeksotisan alamnya yang tidak bisa di temukan di tempat lain. Alasan lain yang menjadikan begitu banyak orang ingin pergi ke Tibet karena Tibet bertempat di perbatasan antara dua negara yang terkenal akan seni dan peradaban kunonya yaitu India dan Cina. Dataran tinggi Tibet hanya dipisahkan oleh jajaran pegunungan Himalaya di tengahnya. Karena itu tak heran banyak hal yang unik dan menarik yang bisa kita saksikan langsung jika kita mengunjungi destinasi ini.

Saya sendiri termasuk orang yang cukup beruntung bisa mengunjungi Tibet dan emnginap beberapa hari berada di Kota Lhasa | ལྷ་ས་ | lha sa | Tempat Tuhan. Sebelumnya saya tidak pernah bermimpi untuk bisa pergi ke kota ini, karena seperti para petualang pada umumnya, mungkin yang saya ketahui hanyalah negara-negara Eropa. Namun rupanya Tibet pada akhirnya membuat saya jatuh cinta, terutama pada kota kecil yang bernama Lhasa yang berada di tengah-tengah pegunungan Himalaya. Suasananya, aroma khas, pakaian masyarakat, dan kearifan lokal lainnya yang membuat saya ingin kembali ke kota yang jauh dari hingar-bingar itu. Mengapa demikian? Mungkin sepuluh fakta mengenai Tibet di bawah ini bisa dijadikan rujukan untuk teman-teman sebelum mengunjungi negeri ini dan asalan penting mengapa Tibet layak saya katakan demikian:


  • Tibet di kenal sebagai “negeri di atas awan” . Letaknya berada pada 13.000 kaki di atas permukaan laut dan terletak di dataran tinggi Himalaya, sebuah pegunungan yang sambung-menyambung dan berada di antara India, Nepal, dan Cina. Kendati demikian, Tibet memiliki salah satu danau, jalur kereta api, jalan, dan terowongan terindah di dunia

  • Karena letak geografisnya yang demikian, tak heran jika udara di Tibet memiliki 40% lebih sedikit kandungan oksigen. Tidak heran bila sedang jalan kaki atau menaiki anak tangga di Tibet terasa cepat lelah dan harus pintar-pintar mengolah napas. Eits! Tidak usah khawatir, karena di sana banyak yang menjual tabung oksigen apabila membutuhkan.

  • Tibet benar-benar unik. Masyarakatnya yang hidup dalam kesederhanaan, memegang teguh adat istiadatnya padahal lingkungannya sudah modern.



[caption id="" align="alignnone" width="805"] Istana Potala yang megah dan menjulang di pegunungan. Karya: Xiquinho[/caption]


  • Cara orang Tibet berdoa sangat unik bagi orang-orang awam seperti kita. Peziarah datang mengunjungi Istana Potala |  ཕོ་བྲང་པོ་ཏ་ལ་ | pho brang Potala untuk berdoa, tak lupa mereka memutar roda gerak agar doa mereka di kabulkan. Mereka berdoa dengan menelungkupkan badan. Tidak hanya anak muda, bahkan banyak orang tua yang berdoa di sekitaran Jalan Bakhor meskipun cara jalannya sudah terbongkok-bongkok.

  • Bersiap-siaplah karena di Tibet cukup banyak 'pengemis'. Banyak dari mereka yang berdoa sambil meminta uang kepada wisatawan.

  • Kita dapat berjalan kaki ke Istana Potala, yaitu istana kerajaan yang sangat amat megah di sana. Berada di ketinggian 3.600 di atas permukaan laut. Dulunya tempat ini ditinggali para Dalai Lama. Yang membuatnya semakin indah ialah ketika malam hari lampu-lampu sekitarnya dinyalakan, cahaya temaram di gelapnya malam bermunculan.

  • Perjalanan kereta yang saya tempuh mencapai 44 jam sangat melelahkan sekaligus juga menyenangkan. Saya yang memilih kursi tipe hard-seat memang sangat kelelahan, di tambah lagi orang-orang lokal menganggap saya seperti orang asing, melihat kami dengan tatapan penasaran. Awalnya mungkin terasa menganggu, namun berjalannya waktu, kami dapat beradaptasi. Tukar-menukar mata uang hingga makanan. Lucunya kami hanya berkomunikasi melalui gerakan tangan saja alias bahasa tubuh atau bahasa Tarsan.



[caption id="" align="alignnone" width="717"] Seekor yak di tepi Danau Yamdrok. Karya: Dennis Jarvis[/caption]


  • Apabila kita pergi ke arah Shigatse / Xigazê | གཞིས་ཀ་རྩེ་གྲོངgzhis ka rtse yaitu kota terbesar kedua di Tibet atau pergi menuju ke Kemah Induk Everest | Everest Base Camp (EBC), maka kita akan disuguhkan pemandangan perbukitan yang bentuknya besar-besar dan terdapat danau yang membentang luas bernama Danau Yamdrok | ཡར་འབྲོག་གཡུ་མཚོ་ | yar-'brog g.yu-mtsho. Pemandu wisata kami mengatakan bahwa danau tersebut menghubungkan Tibet dan India.

  • Lhasa yang merupakan kota terbesar pertama di Tibet memiliki banyak kuil,banyak biksu dan di salah satu perbukitan tertinggi di kota terdapat 'Flag Hope' atau 'Bendera Harapan'. Saya menyebutnya seperti itu karena saya merasa banyak harapan yang terpatri pada bendara-bendera itu.

  • Banyak polisi di setiap saya akan memasuki sebuah kota baru. Tidak heran karena Tibet yang merupakan wilayah konflik. Pengamanan yang ketat tidak hanya berlaku untuk wisatawan bahkan juga untuk warga lokal. Untuk meminta izin masuk ke kota baru, beberapa meter sebelum masuk kota, pemandu wisata saya turun dari mobil, berjalan kaki, melewati pos polisi, dan nanti berjumpa lagi di dalam kota.







Sasti Dwi Kartika lahir di Jakarta, 27 Agustus 1995, saat ini masih menempuh kuliah di Sastra Jawa, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Hobi berpetualangan, menjelajah, dan juga fotografi. Kunjungi dan ikuti akun Instagramnya di sastikrtk.










Lisensi Creative Commons
Tulisan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan 4.0 Internasional.

Komentar

Postingan Populer